• About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise
Sunday, April 5, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Bentara
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Bentara
No Result
View All Result
Home Headline

Dilema Pengungsi Lamagute ; Pilih Pulang Kampung, Trauma Banjir Bandang & Waspada Erupsi

by BentaraNet
in Headline
1
Beberapa warga desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata beraktivitas di dekat sumur yang berada di tengah desa / Foto : BentaraNet

Beberapa warga desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata beraktivitas di dekat sumur yang berada di tengah desa / Foto : BentaraNet

0
SHARES
536
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Lewoleba – Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Sabtu , 15 April 2021 masih tampak sepi. Sehari setelah dipulangkan dari posko pengungsi Kantor Camat Nubatukan, di desa ini hampir tidak ditemukan aktivitas warga.

Meski demikian, beberapa orang sesekali mondar-mandir di ruas jalan antara kantor desa Lamagute dan SDK Atawatung. Para pengiris tuak tidak tampak di desa yang terkenal dengan arak Atawatung ini.

Beberapa ibu-ibu membenahi halaman rumah, merawat bunga dan menimba air dari sumur tua yang berada di tengah desa. Anak-anak bersepeda di lorong sempit antara rumah-rumah yang letaknya persis di sebelah utara sumur.

Desa ini berada tepat di kaki Ile Lewotolok, gunung api yang pada Minggu, 29 November 2020 silam mengalami erupsi.

Puncak gunung api stratovolcano ini juga jadi sumber banjir bandang yang meluluhlantakkan empat desa di Kecamatan Ile Ape yakni, Waowala, Tanjung Batu, Amakaka, Lamawara dan dua desa di Kecamatan Ile Ape Timur, desa Waimatan dan Lamawolo.

Warga desa Lamagute boleh dibilang beruntung karena tidak mengalami langsung musibah banjir bandang yang menelan 68 korban jiwa, dan menghancurkan ratusan rumah. Sebanyak 22 korban jiwa di antaranya tidak ditemukan hingga kini.

RelatedPosts

Kampus INF Nagekeo Kirim Relawan Bantu Pencarian Korban Banjir di Mauponggo

September 10, 2025

Banjir Terjang Mauponggo: 3  Meninggal Dunia 4 Hilang

September 9, 2025

Bahkan di Waimatan, 8 korban hingga kini tidak ditemukan dan belasan rumah tertimbun bebatuan besar yang longsor dari lereng gunung.

Meski demikian, Lamagute tidak bisa dibilang 100 persen aman. Deretan bebatuan besar tampak tergantung di antara gugusan bebukitan yang sedikit menghalangi pandangan ke puncak gunung.

Desa ini berada di antara dua lokasi bencana, yakni Desa Waimatan yang berada di sebelah barat, dan sebuah kali mati, jalur banjir bandang yang berada tidak jauh dari Desa Napasabok yang berada di sebelah timur.

“Kami juga khawatir saat malam itu (Minggu, 04 April 2021 subuh). Paginya kami dengar di Waimatan sudah ada korban meninggal dan rumah-rumah tertimbun batu,” kata Karel Witak, warga Desa Lamagute.

Tidak berbeda dengan desa lainnya di kaki gunung Ile Lewotolok, Lamagute juga memiliki beberapa potensi ancaman bencana mulai dari erupsi gunung api, gempa bumi, banjir bandang dan tzunami.

Tiga potensi ancaman bencana pertama bisa saja menyebabkan longsoran bebatuan besar yang begantungan di lereng bebukitan kecil dan gunung. Kapan pun desa ini terancam ditimbun bebatuan besar.

Tidak heran jika beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Lembata beberapa tahun terakhir juga berupaya mewujudkan Lamagute sebagai desa tangguh bencana. Beberapa pelatihan dan simulasi mitigasi bencana juga pernah dilakukan di sini.

Relokasi sepertinya belum jadi wacana yang seksi waktu itu.

Memilih untuk pulang ke kampung pasca bencana banjir bandang dan longsor, bukan pilihan yang mudah bagi Karel dan warga desa Lamagute lainnya. Tidak semua warga memilih ke desa saat dipulangkan Pemerintah Kabupaten Lembata.

“Sebagian memilih pulang ke sini tetapi sebagian lainnya masih di rumah keluarga di Lewoleba. Ada yang pergi ke kebun di Parek (Perkebunan warga yang berada di wilayah Tanjung, Kecamatan Ile Ape),” kata Karel.

Karel mengatakan, tidak ada pilihan bagi mereka saat diminta pemerintah untuk memilih bertahan di posko pengungsian atau pulang ke rumah masing-masing. Karel bersama sebagian warga Desa Lamagute akhirnya memilih untuk pulang ke kampung.

“Artinya secara pribadi kami memilih pulang ke rumah. Bukan juga meminta, tapi dari Pemda (yang memberi pilihan),” kata Karel. “Katakan saja di Lamagute masih aman, sehingga kami boleh pulang. Tetapi apabila ada dentuman (erupsi) dan rasa tidak aman bisa balik kembali ke Lewoleba lagi,” lanjutnya.

Karel mengungkapkan, kepulangan warga desa Lamagute dibayang-bayangi rasa trauma dan ketakutan, akumulasi dari bencana erupsi Ile Lewotolok, menyusul banjir bandang dan longsor. Menurutnya, hal yang paling ditakutkan saat ini adalah ancaman erupsi gunung api Ile Lewotolok, bukan banjir bandang.

 “Kita ini masih bimbang juga karena di kiri kanan ini ada bencana juga. Yang ditakutkan itu erupsi, kalau banjir saya kira tidak terlalu lagi karena sekarang sudah musim kemarau,” ungkapnya.

Warga lainnya, Maria Sawu Betekeneng masih merasa tidak nyaman saat tinggal di kampung. Selain karena diberi pilihan untuk pulang kampung, rasa cintanya akan kampung halaman membuatnya bertahan di Lamagute meski harus selalu waspada.

“Ya rasanya tidak nyaman. Tapi tumpah darah kita di sini. Sedikitnya itu kita tidak lupa, mau betah di sini. Tapi karena keadaan alam begini,” ungkapnya.

D sisi lain, Maria mengaku akan selalu mengikuti arahan pemerintah jika itu baik untuk dirinya dan warga masyarakat desa Lamagute. Jangankan diminta untuk memilih pulang ke kampung atau bertahan di Lewoleba, direlokasi sekali pun dia akan turut.

“Kita dalam kebimbangan begini kalau pemerintah bilang yang lebih baik untuk masyarakat ya kita harus ikut,” ucap Maria. Maria mengatakan, aktivitas menenun ibu-ibu di desa Lamagute juga berjalan seperti biasa seperti hari-hari sebelumnya.

Satu hari setelah pulang ke Lamagute, Maria masih sempat mendengar letupan erupsi gunung api Ile Lewotolok.

Berada di kaki gunung api Ile Lewotolok, membuat desa Lamagute memiliki potensi ancaman bencana seperti erupsi dan banjir bandang yang menyebabkan longsoran material bebatuan besar / Foto : BentaraNet

Sementara itu, petugas di Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian mengimbau masyarakat untuk tetap waspada meski melakukan aktivitas seperti biasa. Aktivitas vulkanik gunung api Ile Lewotolok hingga saat ini masih berada di level tiga atau siaga.

Grafik Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukan, aktivitas kegempaan Ile Lewotolok mengalami penurunan sejak pertengahan April hingga 13 Mei 2020.

“Pada tanggal ini gunung api Ile Lewotolok mengalami erupsi yang cukup besar.”

Setelah tanggal 13 Mei 2021, aktivitas kegempaan Ile Lewotolok mulai meningkat lagi. Sebelumnya pada 21 April 2021 lalu, erupsi gunung Api Ile Lewotolok juga terjadi diikuti kolom abu setinggi 1.000 meter dari kawah puncak.

“Sepertinya energinya yang lama belum habis total. Apalagi kita lihat sekarang juga masih terbuka. Potensi erupsi masih ada cuma skala kecil, hanya letusan stromboli. Namanya terbuka relatif lebih aman,” kata Stanislaus.

Perihal kepulangan pengungsi, Camat Nubatukan, Fransiskus Dangku kepada BentaraNet mengatakan, para pengungsi sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) dari desa Lamagute dan 5 KK dari desa Amakaka dipulangkan pada Jumat lalu.

Frans mengatakan, seluruh pengungsi di Aula Kantor Camat Nubatukan ini memilih untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.

“Keputusannya mereka sendiri yang berunding. Memang kita waktu itu karena Lamagute ini kan seluruh kondisinya baik. Jadi waktu itu kami bilang kalau bisa mau pulang juga silahkan. Mereka ada keresahan juga soal kebun di sana,” kata Fransiskus.

Frans juga mengaku kaget ketika 5 KK dari Desa Amakaka yang berada di posko pengungsi Aula Kantor Camat Nubatukan juga memilih untuk pulang. Dua KK menumpang di rumah keluarga di Lamahora, sedangkan 3 KK memilih untuk pulang ke rumah di desa Amakaka.

“Padahal konsep kami pertama itu hanya Lamagute yang bisa kita izinkan pulang karena mereka kan kondisi di sana masih bagus. Kita juga tidak bisa menahan mereka, karena itu kita atur untuk pulang. Kita siapkan dengan fasilitas kendaraan seluruhnya,” kata Fransiskus.

Aktivis kemanusiaan, Benediktus Bedil mengatakan, adanya potensi ancaman bencana yang cukup serius membuat masyarakat tetap dalam keadaan trauma saat pulang ke desa mereka masing-masing.  

“Apalagi di Atawatung (Desa Lamagute) itu terancam bencana terjepit antara dua daerah yang terkena bencana juga. Dari segi keamanan untuk mereka di sana juga pasti terganggu karena kondisi itu,” kata Benediktus.

Kondisi trauma dan penuh ketakutan serta kebimbangan, lanjut Benediktus, tentu akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat. Jika aktivitas masyarakat tidak berjalan dengan baik tentu akan berpengaruh pada ketahanan pangan dan pendapatan mereka.

“Karena mereka akan sebentar-sebentar gemuruh gunung lalu batu-batu goyang atau longsor, maka ketakutan itu tetap terjadi di sana. Dan dalam kondisi demikian ketahanan pangan dan ketahanan pendapatan masyarakat pasti akan rapuh.”

Jika ketahanan pangan dan pendapatan rapuh, maka kata Direktur LSM Barakat ini, masyarakat akan membutuhkan bantuan. Yang paling pertama membantu adalah diri mereka sendiri, “Tetapi apakah dalam kondisi begini mereka bisa membantu diri mereka?”

Menurut Benediktus, pihak yang paling bertanggungjawab membantu masyarakat dalam kondisi demikian adalah pemerintah. “Kemudian baru pihak-pihak lain itu,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Benediktus menegaskan, agar bantuan dapat didistribusikan tepat sasaran, maka pemeritah mesti membuat assessment, pasca kepulangan para pengungsi.

Jika sebagian masyarakat memilih pulang ke desa, sebagian lainnya bertahan di rumah keluarga di Lewoleba dan ada yang pergi ke kebun-kebun, maka sebaran penyintas banjir bandang akan berubah.

“Kira-kira berapa orang yang membutuhkan bantuan, mereka ada di mana dan bentuk bantuan kita seperti apa itu kan harus diidentifikasi. Supaya bisa diketahui. Supaya bantuan yang kita turunkan juga bisa tepat sasaran dan tepat orang,” pungkasnya.  (Red)

Tags: banjir bandang

Related Posts

Pelabuhan Feri Waijarang Rusak, Harga Komoditi Turun, Masyarakat Rugi

January 25, 2026

LEMBATA - Para pengusaha di Lembata mulai merasakan dampak rusaknya pelabuhan Feri Waijarang yang hingga kini tak kunjung diperbaiki. Rusaknya...

Dapur MBG di Lembata Kesulitan Bahan Baku, Terutama Daging Ayam

January 15, 2026

LEMBATA - Sejumlah dapur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lembata mengalami kesulitan memperoleh bahan baku makanan, terutama...

LBH SIKAP Sarankan Aty Toja Tempuh Jalur Hukum, Soal Pemberhentian Dirinya Sebagai Kapus Loang

LBH SIKAP Sarankan Aty Toja Tempuh Jalur Hukum, Soal Pemberhentian Dirinya Sebagai Kapus Loang

October 19, 2025

LEMBATA – Pemberhetian Fransiska Listiyanti Toja atau Aty Toja sebagai Kepala Puskesmas Loang, Kecamatan Nagawutung oleh Bupati Lembata Petrus Kanisius...

Gelombang Dukungan Petisi Tolak Pemecatan Kompol Kosmas Capai 84 Ribu Tanda Tangan

Gelombang Dukungan Petisi Tolak Pemecatan Kompol Kosmas Capai 84 Ribu Tanda Tangan

September 4, 2025

JAKARTA – Dukungan publik terhadap Kompol Kosmas Kaju Gae terus mengalir deras. Hingga Kamis (4/9/2025) pukul 17.00 WITA, petisi daring...

Camat Nubatukan Polisikan Calon Pengelola Taman Kota Swaolsa Tite

Camat Nubatukan Polisikan Calon Pengelola Taman Kota Swaolsa Tite

August 4, 2025

LEMBATA – Camat Nubatukan, Dion Wutun, resmi melaporkan calon pengelola Taman Kota Swaolsa Tite ke pihak kepolisian atas dugaan tindak...

Dugaan Pungutan Liar Warnai Polemik Pengelolaan Taman Ria Swaolsa Tite Lewoleba

Dugaan Pungutan Liar Warnai Polemik Pengelolaan Taman Ria Swaolsa Tite Lewoleba

July 30, 2025

LEMBATA – Taman Ria Swaolsa Tite merupakan satu di antara beberapa taman kota yang cukup ramai di Lewoleba, Ibukota Kabupaten...

Next Post
Tetes Air Mata Maria di Taman Daun, Setelah Dipulangkan dari Pengungsian

Tetes Air Mata Maria di Taman Daun, Setelah Dipulangkan dari Pengungsian

Comments 1

  1. RUBEN says:
    5 years ago

    Sepakat apa yang di bicarakan barakat namun tangggal 17-21 april telah di lakukan JNA-JMA NTT, sehingga gunakan saja JNA itu menjadi acuan untuk Respon benjana seroja di NTT

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Polres Lembata Gandeng Pengelola SPBU Balauring Jaga Stabilitas Kamtibmas

3 days ago

Polres Lembata Ajak Pelaku Usaha Olahan Tuna Cegah Pencemaran Lingkungan

3 days ago

Cerita Anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Lewoleba yang Dapat Penghargaan saat RAT

1 week ago
PT Indofish Makmur Sejati Bantah Monopoli Pasar Ikan di Lembata

PT Indofish Makmur Sejati Bantah Monopoli Pasar Ikan di Lembata

2 weeks ago

Polres Lembata Lakukan Penggalangan Jelang Perayaan Paskah 2026

3 weeks ago

Polres Lembata Lakukan Penggalangan Jelang Idul Fitri 1447 H

3 weeks ago
Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

3 weeks ago

Popular News

  • Cerita Anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Lewoleba yang Dapat Penghargaan saat RAT

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Lembata : Eksplorasi Budaya Bawa Pesan Kejujuran untuk Anak Cucu & Lewotana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pre – Launching Pustaka Bambu Jadi Jembatan Masa Depan Anak-anak di Adonara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dinkes Lembata Gelar Sosialisasi dan Anjangsana ke Tokoh Agama Sambut Hari AIDS Sedunia 1 Desember

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Produktivitas Sorgum di Lembata Meningkat Tapi Tidak Didukung Alsintan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Kirim E-mail :

Untuk kritik, saran dan pertanyaan lainnya, silahkan kirim pesan anda untuk BentaraNet di bentara.redaksi01@gmail.com

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

Kami menyajikan berita akurat, mendalam dan edukatif untuk anda.

  • About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise

© 2023 - Bentara.net

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan

© 2023 - Bentara.net