LEMBATA – Pembangunan rumah walet di kawasan wisata Bukit Cinta oleh Pemda Lembata menuai polemik di kalangan pelaku pariwiasata.
Mereka menilai rumah walet yang dibangun dengan pagu anggaran Rp 171.600.000 ini merusak nuansa tempat wisata yang terkenal dengan spot view sunset ini.
Meski demikian pemerintah punya alasan kuat mengapa rumah walet ini perlu dibangun di kawasan wisata Bukit Cinta.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kabupaten Lembata, Kris Molan saat peresmian Rumah Walet ini Jumat (09/01/2026) menyebut rumah walet ini diproyeksikan bisa menghasilkan Rp 96 juta per tahun.
Potensi penghasilan ini bisa dicapai dengan asumsi populasi walet dalam jangka waktu enam bulan sebanyak kurang lebih 500 ekor.
Sementara itu waktu mulai panen dapat dioptimalkan di tahun kedua dengan asumsi jika rata rata panen bulanan sebanyak 1 kg, dengan harga jual Rp 8 juta/kg,
Dengan potensi penghasilan seperti ini Kris menjelaskan bahwa pembangunan rumah walet merupakan salah satu upaya strategis dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat.
“Usaha sarang burung walet memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta prospek yang menjanjikan apabila dikelola secara terencana, terpadu dan berkelanjutan,” ucapnya.
“Pengelolaan rumah walet yang baik juga dapat disinergikan dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis alam dan edukasi,” lanjutnya.
Rumah walet ini diresmikan langsung oleh Bupati Lembata Perrus Kanisius Tuaq.
Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa Pemda terus melakukan inovasi dengan memanfaatkan aset yang ada, salah satunya melalui renovasi gedung roundhouse lama menjadi rumah walet agar mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi daerah.
“Inovasi ini merupakan bagian dari visi dan misi RPJMD Kabupaten Lembata, khususnya dalam penguatan destinasi pariwisata pasca pandemi COVID-19. Pemerintah tidak hanya membangun fisik, tetapi juga menciptakan sumber-sumber ekonomi baru yang berkelanjutan,” ujar Bupati Kanis. (BN/001)















