LEMBATA – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lembata, Ursula S Bayo, meluncurkan Taman TOGA Edukatif di Puskesmas Lewoleba pada Kamis (26/2/2025). Peluncuran ini menjadi bagian dari implementasi program Sentuhan Herbal Tradisional Terintegratif Puskesmas (SEHATI LOKAL) di wilayah Kecamatan Nubatukan.
Taman yang berada di tengah bangunan poli puskesmas itu dirancang sebagai ruang edukasi kesehatan berbasis kearifan lokal. Setiap pengunjung dapat mengakses informasi manfaat tanaman obat keluarga (TOGA) yang ditanam dan dimanfaatkan secara terintegrasi dalam layanan kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut, Ursula didampingi Staf Ahli PKK Hj. Nurmila Nasir serta PLT. Camat Nubatukan, Michael Kia. Mereka turut melakukan penanaman perdana sejumlah tanaman herbal sebagai simbol dimulainya inovasi tersebut.
Rombongan juga meninjau langsung layanan kesehatan tradisional dan penyajian minuman herbal hasil olahan TOGA seperti jahe, kencur, dan kunyit. Selain taman edukatif, inovasi ini mencakup poli tradisional terintegrasi dan kartu sehat pasien sebagai instrumen pencatatan layanan.
Ursula dalam sambutanya saat kegiatan ini mengatakan inovasi pelayanan kesehatan SEHATI LOKAL merupakan langkah nyata dalam mendukung pelayanan kesehatan berbasis kearifan lokal.
Ia menegaskan bahwa pengobatan tradisional yang aman, terstandar, dan terintegrasi dapat menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan modern melalui inovasi ini. Menurutnya, pendekatan tersebut sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif di tengah masyarakat.
“Program ini sangat selaras dengan sepuluh program pokok PKK, khususnya pada bidang kesehatan yang mendorong keluarga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Ursula menjelaskan bahwa pemanfaatan TOGA juga mendukung program pangan dan pelestarian lingkungan hidup. Ia menyebut optimalisasi pekarangan rumah untuk menanam herbal menjadi langkah konkret menjaga kesehatan keluarga secara mandiri.
“Melalui kader-kader PKK hingga tingkat dasawisma, kita dapat mengedukasi keluarga tentang pemanfaatan TOGA secara benar dan aman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tanaman obat keluarga dapat dimanfaatkan sebagai upaya pencegahan penyakit ringan maupun pertolongan pertama. Namun ia tetap mengingatkan pentingnya pendampingan tenaga medis.
“Penggunaan terapi tradisional harus tetap aman dan sesuai anjuran medis,” tegasnya.
Sementara itu, Plt. Camat Nubatukan Michael Kia menyatakan Pemerintah Kecamatan Nubatukan mendukung penuh inovasi tersebut.
Ia menjelaskan camat tidak hanya berfungsi sebagai koordinator, tetapi juga sebagai fasilitator yang menggerakkan seluruh pemangku kepentingan lintas sektor. Sinergi ini diperlukan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Kami akan memastikan pelayanan kesehatan benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia juga berharap seluruh lurah di wilayah Nubatukan turut aktif mendukung dan mengawal implementasi program tersebut.
Gambaran lebih luas tentang urgensi inovasi ini disampaikan dr. Emiliana Budiyanti Roma dalam selayang pandang program SEHATI LOKAL. Ia menyoroti perubahan pola hidup masyarakat yang berdampak pada pergeseran pola penyakit.
“Kita tidak bisa hanya menunggu masyarakat datang ke puskesmas saat sakit, tetapi harus masuk ke wilayah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut dr. Emiliana, menurunnya aktivitas fisik dan perubahan gaya hidup memicu meningkatnya kasus hipertensi, diabetes, stroke, serta nyeri sendi. Karena itu pendekatan pelayanan kesehatan harus bergeser dari tindakan kuratif ke upaya promotif dan preventif.
Ia memaparkan bahwa berdasarkan data, sekitar 70 persen masyarakat berada dalam kondisi sehat, sementara 30 persen mengeluh sakit. Dari 30 persen tersebut, sebanyak 42 persen memilih melakukan perawatan mandiri atau self care, dan 52 persen datang ke fasilitas kesehatan.
“Artinya masyarakat kita sudah melakukan pengobatan terhadap dirinya sendiri sekitar 42 persen,” katanya.
Namun ia mempertanyakan apakah praktik self care tersebut sudah aman, teredukasi, dan terpantau dengan baik. Menurutnya, di sinilah pentingnya kehadiran pelayanan kesehatan tradisional yang terstandar dan berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.
“Pelayanan kesehatan tradisional adalah bagian dari sistem pelayanan kesehatan nasional dan harus dilaksanakan secara terstandar dan terbina, bukan praktik liar tanpa pengawasan,” tegasnya.
Ia merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2016 yang mengatur bahwa pelayanan kesehatan tradisional dapat dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan dalam bentuk yang terstandar. Regulasi tersebut menjadi landasan hukum bagi integrasi layanan tradisional di puskesmas.
“Inovasi SEHATI LOKAL lahir untuk mewujudkan pelayanan kesehatan tradisional yang aman, teredukasi, dan sesuai regulasi,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, SEHATI LOKAL diharapkan tidak sekadar menjadi simbol inovasi, tetapi benar-benar memperkuat paradigma sehat di tingkat masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan gerakan PKK menjadi fondasi utama keberlanjutan program ini. (BN/001)

















