• About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise
Monday, April 6, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Bentara
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Bentara
No Result
View All Result
Home Lingkungan Hidup

Perubahan Iklim: Petani Lembata Tukar Guling Jagung Hibrida ke Sayur Organik

by BentaraNet
in Lingkungan Hidup
0
Ignasius Suyadi Aur, petani di Desa Dulitukan, Kabupaten Lembata merawat tanaman terung di kebun / Foto : BentaraNet

Ignasius Suyadi Aur, petani di Desa Dulitukan, Kabupaten Lembata merawat tanaman terung di kebun / Foto : BentaraNet

0
SHARES
162
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

LEMBATA – Bencana gagal panen terus terjadi tiap tahun di Kabupaten Lembata. Selain perubahan cuaca ekstrim, serangan hama penyakit juga menjadi penyebab utama gagal panen.

Ignasius Suyadi Aur salah satu petani mengatakan, di wilayah Tanjung, Kecamatan Ile Ape , tidak sedikit petani yang menanam jagung hibrida. Namun banyak dari mereka juga yang mengalami gagal panen ketika hujan tiba-tiba berhenti dalam waktu yang cukup lama saat jagung dalam masa pertumbuhan.

Kondisi ini kata Ignasius, mendorongnya beralih budidaya sayur-sayuran organik. “Menanam sayuran organik merupakan pilihan tepat di tengah musim. Lima jenis sayuran yang ditanam saat ini seperti tomat, kacang panjang, terung, cabai dan pare, ” katanya saat ditemui di kebun miliknya, Senin, 24 Maret 2025.

Ignasius menyebut, tanah di kebun miliknya memiliki kualitas yang bagus untuk ditanami sayur-sayuran. “Kalau untuk tanah kualitasnya bagus , ” kata Ignasius yang telah menekuni budidaya sayur organik sejak tiga tahun lalu.

Budidaya sayur-sayur organik juga membuat mereka lebih baik dalam memberikan perlakuan terhadap tanah, jika dibandingkan dengan jagung hibrida yang harus mendapatkan perlakuan lebih dengan menggunakan pupuk kimia.

“Di sini kami tidak menggunakan pupuk kimia. Kami menggunakan pupuk kandang dari ternak yang seperti kambing dan limbah organik di sekitar sini,” kata Ignasius.

Ignasius mengaku khawatir dengan kualitas tanah miliknya akan menurun, jika ia terus menerus menanam jagung hibrida dengan perlakuan pupuk kimia yang berlebihan.

RelatedPosts

Peserta mengikuti pelatihan Ecoprint yang diselenggarakan Koalisi KOPI Lembata / Foto Istimewa

Koalisi Kopi Lembata Ajak Anak Muda Lestarikan Bumi Lewat Ecoprint

October 5, 2025
Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kampanye dan Amplifikasi di Isu Perubahan Iklim yang digelar LSM Barakat / Foto : BentaraNet

Sumbatan Informasi Sebabkan Isu Iklim Belum Jadi Perhatian Publik

February 7, 2025

Tidak jauh dari kebun milik Ignasius, petani lainnya, Edi Suyono juga melakukan hal yang sama. Barisan pagar untuk tanaman pare sengaja ia tempatkan di sisi luar untuk melindungi tanaman lainnya seperti cabai dan tomat dari panas yang berlebihan.

Sementara di pinggir kebun di sisi yang lain, ia membuat jebakan agar air tidak mengalir ke mana-mana saat hujan turun dengan deras.

Cuaca di wilayah ini memang selalu ekstrim. Pada saat-saat tertentu, hujan turun dengan sangat lebat, namun di lain waktu suhu panas yang tinggi bisa berlangsung dalam waktu yang lama.

Meski membutuhkan syarat yang sama yakni ketekunan, Edi menjelaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, lebih mudah ia merawat sayur dibandingkan jagung hibrida.

“Kalau jagung (hibrida), itu panas yang panjang itu langsung kita pastikan akan gagal. Sementara ini bisa kita selamatkan dengan air yang ada apalagi kami sering menggunakan pupuk kandang,” ucapnya.

Hasil yang mereka dapatkan dari budidaya sayur-sayuran ini pun jauh lebih tinggi dibandingkan menanam jagung hibrida. Dalam sehari saat musim panen, omset penjualan Ignasius bisa mencapai Rp 300 ribu.

Hasil sayur milik mereka lebih diminati di pasar karena melalui metode pengolahan secara organik . Apalagi di Lewoleba, Ibukota Kabupaten Lembata, sayur-sayuran dengan residu pestisida yang tinggi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

“Para pedagang biasanya langsung ambil di sini. Kalau sayur organik dengan non organik itu kualitasnya berbeda. Tomat misalnya, kami punya itu bisa bertahan sampai satu minggu, tapi kalau papalele (pedagang) mereka dapat dari petnai yang pakai pupuk kimia, itu hanya bisa bertahan tiga hari,” ungkap Ignasius.

Di sisi lain, Ignasius dan Edi mengakui bahwa budidaya sayur-sayuran ini hanya bisa mereka lakukan saat musim hujan. Sementara di musim kemarau, ketersediaan air tidak cukup bagi mereka untuk budidaya tanaman sayur-sayuran.

Jika ada sumur bor, mereka akan melakukan pekerjaan ini sepanjang tahun di musim hujan dan musim kemarau. Sejauh ini intervensi dukungan dari pemerintah belum terlihat sebagai inisiatif yang mereka ambil.

Penulis : Andri AG

Tags: cuaca burukPerubahan Iklim

Related Posts

Bupati Nagekeo Tanam Pohon di Wilayah Rawan Banjir

October 31, 2025

NAGEKEO _ Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-97, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah menyelenggarakan...

Desa-Desa Pesisir Ile Ape Bentuk Komunitas Muro untuk Lestarikan Tradisi dan Laut

Desa-Desa Pesisir Ile Ape Bentuk Komunitas Muro untuk Lestarikan Tradisi dan Laut

August 7, 2025

LEMBATA - Sejumlah desa di wilayah pesisir Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, bersepakat membentuk Komunitas Muro sebagai wadah pelestarian ekosistem...

Wabup Nagekeo Serukan Aksi Hentikan Polusi Plastik

June 6, 2025

NAGEKEO - Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, menyerukan hentikan polisi plastik sebagai seruan aksi nasional untuk mengakhiri krisis...

Upaya Puge Figo Konservasi Mati Air Melalui Penanaman Pohon

April 4, 2025

BAJAWA - Konservasi mata air melalui penanaman pohon di sekitar sumber mata air sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sumber air...

Kecewa dengan PLN, Warga Tolak Penawaran Harga Tanah untuk PLTP Atadei

Kecewa dengan PLN, Warga Tolak Penawaran Harga Tanah untuk PLTP Atadei

November 3, 2024

LEMBATA - Warga Desa Nubahaeraka di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menolak penetapan harga satuan tanah yang ditetapkan...

Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kampanye dan Amplifikasi di Isu Perubahan Iklim yang digelar LSM Barakat / Foto : BentaraNet

Sumbatan Informasi Sebabkan Isu Iklim Belum Jadi Perhatian Publik

February 7, 2025

LEMBATA - Salah satu tantangan besar di dalam upaya menguatkan suara isu perubahan iklim adalah sumbatan informasi. Kondisi ini menyebabkan...

Next Post

Upaya Puge Figo Konservasi Mati Air Melalui Penanaman Pohon

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Polres Lembata Gandeng Pengelola SPBU Balauring Jaga Stabilitas Kamtibmas

4 days ago

Polres Lembata Ajak Pelaku Usaha Olahan Tuna Cegah Pencemaran Lingkungan

4 days ago

Cerita Anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Lewoleba yang Dapat Penghargaan saat RAT

1 week ago
PT Indofish Makmur Sejati Bantah Monopoli Pasar Ikan di Lembata

PT Indofish Makmur Sejati Bantah Monopoli Pasar Ikan di Lembata

3 weeks ago

Polres Lembata Lakukan Penggalangan Jelang Perayaan Paskah 2026

3 weeks ago

Polres Lembata Lakukan Penggalangan Jelang Idul Fitri 1447 H

3 weeks ago
Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

3 weeks ago

Popular News

  • Cerita Anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Lewoleba yang Dapat Penghargaan saat RAT

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Lembata : Eksplorasi Budaya Bawa Pesan Kejujuran untuk Anak Cucu & Lewotana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pre – Launching Pustaka Bambu Jadi Jembatan Masa Depan Anak-anak di Adonara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tobotani Terima MBG 3T, Sambil Menanti Pembangunan Infrastruktur Dasar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dinkes Lembata Gelar Sosialisasi dan Anjangsana ke Tokoh Agama Sambut Hari AIDS Sedunia 1 Desember

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Produktivitas Sorgum di Lembata Meningkat Tapi Tidak Didukung Alsintan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Kirim E-mail :

Untuk kritik, saran dan pertanyaan lainnya, silahkan kirim pesan anda untuk BentaraNet di bentara.redaksi01@gmail.com

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

Kami menyajikan berita akurat, mendalam dan edukatif untuk anda.

  • About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise

© 2023 - Bentara.net

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan

© 2023 - Bentara.net