LEMBATA – Polemik Kebijakan Pemda Lembata membatasi pasokan daging ayam dari luar daerah masih berlanjut. Kebijakan ini ditentang sebagian anggota DPRD dan para pengusaha yang selama ini mendatangkan daging ayam dari luar daerah untuk memenuni permintaan di Lembata.
Namun di sisi lain, tidak sedikit juga dukungan dari berbagai kalangan atas kebijakan Bupati Lembata Kanis Tuaq ini. Satu di antara dukungan tersebut datang dari peternak ayam lokal.
Mereka menilai kebijakan Bupati Lembata ini memberikan perlindungan sekaligus mendukung usaha yang selama ini mereka geluti. Apalagi dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini sudah mulai berjalan di Lembata.
Di satu sisi kehadiran Dapur MBG memberi peluang bagi peternak lokal dengan meningkatnya permintaan daging ayam. Di sisi lain, meningkatnya permintaan daging ayam menjadi ancaman bagi peternak lokal dengan meningkatnya pasokan dari luar.
“Ini peluang bagus bagi para pengusaha lokal. Semakin banyak permintaan, usaha ayam ini semakin potensial. Apalagi dengan hadirnya MBG. Kami mendukung kebijakan Bupati Lembata membatasi pasokan daging ayam dari luar daerah,” kata Beny Langotukan kepada BentaraNet, Minggu (18/01/2026).
Ia mengatakan pesokan daging ayam dari luar jika tidak dibatasi maka akan “membunuh” peternak lokal di Lembata. Meski permintaan daging ayam melonjak dengan hadirnya program MBG, beny mengatakan peternak ayam lokal tetap terancam jika pasokan dari luar tidak dibatasi.
Beny menegaskan bahwa kebijakan membatasi pasokan daging ayam dari luar memberi kesempatan kepada peternak lokal untuk mengembangkan bisnis mereka. Ia melihat potensi permintaan pasar ini harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Lembata untuk membuka usaha di bidang peternakan ayam.
“Semua orang sekarang bisa beternak tapi mereka takut kalau pasar tidak bisa menyerap. Sekarang kan pasarnya bagus, harusnya orang semakin berani untuk beternak ayam,” kata Beny.
Inisiator peternakan ayam di Lembata, Jack Sumarjo, mengatakan, permintaan daging ayam di Lembata terus naik setiap tahun. Hal ini ia buktikan dengan meningkatnya permintaan anak ayam (DOC/day old chick) yang terus meningkat.
“Dulu itu perusahan memasok 3.000 DOC setiap bulan berdasarkan permintaan peternak. Tapi sekarang 10.000 DOC tidak cukup, sehingga sebagian kami harus datangkan dari Nagekeo. Ini menunjukan permintaan daging ayam meningkat terus tiap tahun,” kata Jack.
Suplai ayam untuk memenuhi permintaan pasar di Lembata dalam waktu yang akan datang juga semakin meningkat, di mana hampir semua pemerintah desa mulai menjalankan bisnis peternakan ayam melalui Bumdes dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Hadirmya usaha-usaha peternakan ayam di Lembata menggambarkan semakin tinggi permintaan ayam pedaging. Namun di sisi lain, menurut Beny, kondisi ini akan menjadi ancaman jika Pemda Lembata tidak berupaya melindungi peternak lokal. (BN/001)

















