LEMBATA – Para pengusaha di Lembata mulai merasakan dampak rusaknya pelabuhan Feri Waijarang yang hingga kini tak kunjung diperbaiki. Rusaknya pelabuhan ini menyebabkan kapal feri reguler tidak bisa bersandar, yang berakibat pada terhambatnya jalur distribusi barang dan jasa.
Hingga saat ini, sejak rusak sekitar tiga bulan lalu, kapal Feri milik ASDP Kupang terpaksa bersandar di Pelabuhan Laut Lewoleba. Namun kondisi ini juga berdampak pada naiknya biaya distribusi dan bongkar muat barang di pelabuhan.
Rusaknya pelabuhan Feri Waijarang ini memiliki efek domino bagi penumpukan barang komoditi yang hendak dikirim ke luar daerah. Penumpukan barang komoditi di gudang pengusaha ini mengakibatkan menurunya harga di tingkat petani.
“Jadi yang rugi selain kami pengusaha, tapi yang paling utama itu petani. Harga jual pasti turun karena permintaan menurun akibat barang menumpuk di gudang. Kami tidak kunjung kirim barang ke luar daerah karena terkendala di jalur distribusi,” ujar Agus Nuban, salah seorang pengusaha di Lewoleba, Kamis (22/01/2026).
Agus mengatakan saat ini kemiri kupas yang tertumpuk di gudang miliknya sekitar 20 ton. Jumlah ini akan terus bertambah karena petani dari berbagai desa di Lembata terus menawarkan kemiri ke gudang miliknya dengan harga murah.
“Mereka terpaksa jual dengan harga murah, karena tidak ada yang beli. Kami pun sama. Kalau kami ambil dengan harga tinggi pasti kami rugi karena barang menumpuk di gudang. Belum lagi kondisi lembab yang bisa menyebabkan rusaknya kemiri,” ungkapnya.
Agus mendesak Pemda Lembata dan pihak ASDP Kupang segera mencari solusi untuk mengatasi masalah ini.
“Kami masyarakat ini kan tidak mau tahu. Yang kami tahu pemerintah beri solusi atas setiap masalah yang kami hadapi. Jadi jangan anggap sepele karena rusaknya pelabuhan Feri ini berdampak luas pada perekonomian masyarakat,” kata Agus menegaskan.
“Bupati Kanis dan Pak Wakil Nasir harus bisa mengambil langkah taktis untuk mengatasi masalah ini,” pungkasnya.
Hal yang sama juga disampaikan Nona Saidah. Pengusaha Ikan ini terpaksa membayar tiga kali lipat untuk mengirim ikan ke Kupang menggunakan jasa kapal Feri yang bersandar di Pelabuhan Laut Lewoleba.
“Karena mobil ekspedisi kami tidak bisa masuk kalau kapal Feri sandar di pelabuhan Lewoleba. Kami harus bayar buruh, bayar feri dan bayar mobil ekspedisi yang sudah ada di dalam kapal,” ungkapnya.
Biasanya Saidah hanya membayar Rp 40 ribu per box ikan untuk jasa mobil ekspedisi yang melayani pengiriman barang dari Lewoleba menuju Kupang menggunakan kapal Feri.
“Tapi kami terpaksa menumpang di mobil truk tujuan Adonara yang nanti balik ke Kupang. Supaya pas turun di Kupang mereka langsung bawa ikan kami ke pasar ikan Oeba. Kami tidak perlu bayar buruh lagi di pelabuhan di Kupang,” ungkapnya.
Kenaikan biaya pengiriman ikan dari Lembata ke Kupang ini tentu berdampak pada margin keuntungan pengusaha yang semakin menurun. Hal ini menyebabkan harga jual ikan di tingkat nelayan pukat di teluk Lewoleba pun menurun.
“Karena kami pengusaha cari untung biar sedikit. Sementara ikan di Lembata kalau sampai Kupang pun pasti akan bersaing dengan ikan dari daerah lain, Larantuka, Alor dan lain-lain. Jadi harga nelayan juga pasti turun,” kata Nona.
Nona berharap Pemda Lembata segera membangun koordinasi dengan pihak ASDP untuk perbaikan pelabuhan Feri Waijarang. Jika tidak kondisi ekonomi masyarakat khususnya petani dan nelayan semakin merosot. (BN/001)

















