“Intan, kamu tahu kan Solor kering? Tapi ada loh kopi di sana. Bayangkan!”
Malam itu 2 April 2024. Saya dan Kak Valen—demikian saya memanggil si Valentino Luis, duduk menyeruput kopi di depan lapak Rumah Hanasta milik Edo Sogen.
Valentino Luis! Saya tahu kamu sedang ‘mengompori’ saya sekarang.
“Masa’?” jawab saya sangsi sambil mengernyitkan alis.
“Ya, Kopi Lamaole itu dari Solor,” katanya lagi dengan mata berbinar.
Saya seorang jurnalis yang diundang Valen untuk ikut nimbrung dalam peluncuran jenama Kopi Lamaole pada momen Festival Bale Nagi di Kota Larantuka, Flores Timur.Saat jumpa, ia mengajak saya minum kopi, lalu berbincangtentang kopi. Dia mencecar saya dengan rupa-rupa pertanyaan.
“Kalau minum kopi, Intan merasakan pahit atau asam?”
“Rasa itu muncul di lidah atau tenggorokan?”
“Sebelum atau sesudah minum?”
Ada-ada saja pertanyaan yang ia lontarkan. Saya mana paham soal kopi—Minum kopi saja masih harus dicampur gula pasir.
“Hii, macam sama saja, memangnya ada beda kah,” jawab saya polos. Dia tertawa puas. Dari sanalah Valen mulai berkisah. Ia mendeskripsikan macam-macam cita rasa kopi Robusta dan Arabika yang terekam di lidah dan tenggorokan. Valen menyeruput kopi perlahan sambil memejamkan mata.
Ia benar-benar menikmatinya, pikir saya waktu itu.
Saya yakin semua sahabat, kerabat, dan kenalan mengetahuisatu ciri khas Valen yang unik: “mengompori” orang. Dan tentu saja saya ikut “terbakar” seperti sumbu.
Beberapa minggu berselang usai Festival Bale Nagi, saya bersama dua teman menyeberang ke Solor. Kami menginap di rumah Edo Sogen, tepat di samping dermaga Pelabuhan Podor, Lewohedo. Saya ingin membuktikan apa yang Valentino ceritakan dengan bangga hari demi hari itu: Kopi Lamaole, mutiara hitam dari Solor.
Valen telah mempertemukan saya pada Solor dan kopi dengan cara yang berbeda. Dalam perbincangan kami, kopi tidaksebatas persoalan kenikmatan indra perasa. Dia juga tidak berbicara tentang keberadaan kopi dalam pasar yang luas. Ia hanya memulai dari “Siapa yang menanam kopi di tempat yang kering seperti ini?”
Pertanyaan itu kemudian menuntun saya menuju pencarian yang sama: siapa?
Bersama Edo dan teman lain, saya mengunjungi Lamaole, sebuah kampung yang berada di Desa Lewotanah Ole, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur. Kopi di sana tumbuh pada ketinggian 450-500 mdpl. Bibit awal dibawa dari Hokeng, Kecamatan Wulanggitang pada tahun 1966. Saya menjumpai narasumber kunci yang menjadi saksi hidup keberadaan kopi di Kampung Lamaole, Zakarias Daton Sinu. Edo yang menemani saya, berkata, Valentino mewawancarai Zakarias dan bertanya banyak hal. Ya, bukan Valentino Luis namanya kalau tidak mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
Perjalanan pencarian Valen berpijak pada dokumen dan arsip-arsip tua yang ada. Baginya, riset awal ibarat lampu senter untuk menerangi jalan yang gelap tanpa arah. Berbekal arsip dan dokumentasi awal itu, ia menelusuri jejak-jejak kopi yang masih gelap. Rasa ingin tahu itu pula yang membawanya menelusuri lebih dalam. Dan selalu, sosok “siapa” menjadi angle utama dalam setiap pencarian tentang kopi. Entah Lamaole di Solor, Lite di Adonara, maupun Leworok.
Lalu, siapakah sosok “siapa” itu? Jawabannya ada pada halaman awal buku terbarunya, Kisah Kasih Kopi Flores, Emas Hitam Lamaholot.
Untuk keringat & perjuangan
semua petani & pegiat kopi di Flores Timur
“Lewotana radi balik kame,
na tuho lipan kame”
Penulis kelahiran Lela, Kabupaten Sikka ini secara sadar meyakini kopi dan petani adalah ikatan yang tak ada ujungnya. Oleh karena itu, penelusurannya tentang kopi selalu dimulai dari hamparan kebun petani. Ia menjumpai warga, menggali cerita, lalu masuk ke kebun. Berulang-ulang kali.
“Kalau menulis kopi, kamu harus melihat pohonnya di kebun,” dia berpesan.
Di Lamaole, rasa ingin tahu yang besar terjawab setelah dia menemukan pohon-pohon kopi yang sangat terawat. Ia tak henti-hentinya bersyukur bertemu Bapak Zaka, demikian sebutan untuk Zakarias. Dari sana Valen menulis tentang upaya merawat ‘mutiara hitam’ yang tersembunyi itu.
Dari Lite, Valen mengemas tulisan kopi dengan cara berbeda. Ia pergi dengan sejuta ekspektasi karena telah membaca sebuah tulisan tua terlebih dahulu. Ia menelusuri sejarah, lalu melihat eksistensi Kopi Lite. Sayang, pencarian itu tak seindah ekspektasinya. Meski demikian, Valen tetap menulis bagaimana harapan warga pada anak-anak muda Lite untuk menekuni wirausaha desa, khususnya pada kopi. Bagi Valen, harapan-harapan itu tak boleh mati. Ibarat nyala api dalam kegelapan, ia tak boleh padam.
Pemuda 43 tahun ini kembali bergerak menuju kampung Leworok yang terkenal dengan Kopi Leworok. Valen menyebutnya sebagai jenama inovator usaha kopi di Flores Timur. Dari sana, ia mengisahkan cerita-cerita generasi penjaga kopi, lalu kerja-kerja pelestarian kopi.
Dalam buku terbarunya itu, terdapat empat lokasi lain yang menjadi titik persinggahannya dalam menelusuri jejak kopi di Flores Timur: Lamatou, Gelong, Hokeng, dan Lamanabi. Masing-masing tulisannya mengangkat kisah keseharian para petani yang bergelut dengan harga kopi di pasaran, krisis lingkungan, upaya mempertahankan kebun kopi, juga harapan untuk memperkenalkan budaya lewat kopi.
Jika tak ada kopi untuk semua orang
Maka tak akan ada kopi untuk siapa pun
(Che Guevara)
Di dunia fotografi dan jurnalisme-perjalanan, siapa yang tak kenal Valentino Luis? Membaca tulisan-tulisannya di blogatau majalah pesawat membuat saya seolah-olah sedang menaiki tangga pesawat, memakai sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan siap terbang berkelana. Ia pandai mengemas transisi dalam setiap tulisannya; membuat saya semakin penasaran dengan tulisan panduan perjalanan wisata itu. Tak ayal, saya mendaki dengan napas terengah menuju Kampung Kawa pada tahun 2022 setelah sebelumnya membaca tulisan perjalanannya ke kampung adat di Nagekeo itu.
Saat menggarap buku tentang kopi, Valentino adalah sosok yang berbeda. Ia menyusuri Flores jauh lebih dalam, masuk keluar kebun-kebun warga, lalu berinteraksi dengan petani dan para pegiat kopi. Ia merekam kisah-kisah mereka; ia mengurai kenangan lama akan kopi. Valen menulis keresahan petani kopi; mengangkat harapan para petani. Dan tentu saja pesannya tentang kopi lagi lagi mengubah cara pandang saya dalam meliput.
“Kopi bisa dinikmati dengan lega jika kamu sudah berjumpa dengan petani kopi itu, Intan,” katanya tenang.
Ah, kaka…
Saya menikmati hari-hari di Rumah Hanasta dengan perasaan kagum akan Solor. Kekaguman itu saya sampaikan terus menerus kepadanya melalui pesan singkat. Hingga pada suatu siang saat kapal sandar ke dermaga, kami melihat Valen turun dengan entengnya. Ia tersenyum riang tanpa beban. Saya, Edo, dan si Roni, pemuda desa andalan kami, saling bertukar pandang, kaget, sekaligus bergembira. Ia datang tanpa pemberitahuan. Dia memang penuh kejutan.
Hari itu kami menemani Valen jalan-jalan ke arah Solor Timur. Kami berfoto di pantai. Lalu, kami memutar balik tujuan ke arah Barat. Naik ke perbukitan, ia menyuruh saya berdiri di antara rerumputan hijau. Kebetulan, saya memakai jaket berwarna kuning cerah.
“Saya tidak tahu bergaya, kaka,” teriak saya kepada Valen.
Ia mengangkat kamera andalan berbodi merah dengan strap tenun yang khas.
“Lihat ke sana, berdiri ke sana lagi,” kata Valen memberi instruksi.
Hasil foto itu diberi watermark East Flores lalu dimuat ke halaman facebook-nya.
Malam menjemput, kami memaksa Valen menginap di Rumah Hanasta. Namun, seperti yang diketahui banyak teman-teman, Valen hidup dengan keinginannya. Ia memilih pulang dengan kapal kayu terakhir dari Pelabuhan Podor menuju Kota Larantuka. Lagi dan lagi, sesuka hati. Lambaian tangan mengiringi kepergiannya.
Pada Senin, 2 Februari 2026 malam, saya mendapat sebuah pesan singkat dari seorang teman tentang kondisi kesehatan Valen. Setelah mendapat pesan itu, saya menghubungi Edo di Solor. Baru beberapa jam berlalu dari percakapan kami, isi chat berubah dari panggilan “beliau” menjadi “almarhum”pada tanggal 3 Februari 2026 pagi.
Siang itu, saya menatap bingung Valen yang tak lagi melempar senyum hangat setiap berjumpa. Tak ada lagi ajakan untuk memanas-manasi Edo lewat foto kami berdua. Yang tersisa hanyalah berbagai ingatan lama, seperti kaset lama yang diputar kembali untuk dikenang.
“Intan, mengapa kamu tak membuat podcast? Kalau di Jawa ada Najwa, harusnya di NTT ada Intan, kan?”
“Saya tidak percaya diri, kaka.”
“Ayolah, kamu punya kemampuan. Kita bikin ya.”
Sebagaimana “komporan”-nya yang selalu penuh kejutan, demikian juga kehilangan.
Pada akhirnya, selamat menulis kisah perjalanan tunggal ke keabadian, Kakak!















