LEMBATA – Sejumlah dapur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lembata mengalami kesulitan memperoleh bahan baku makanan, terutama bahan pangan segar seperti daging ayam dan buah-buahan.
Kesulitan tersebut dialami tiga dapur yang saat ini sedang melayani siswa balita, siswa TKK, sekolah dasar dan menengah di kota Lewoleba.
Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Wilayah Lembata, Yohanes Paulus Bedan mengatakan hal ini saat peresmian Dapur MBG 03 Lembata – Nubatukan, di Waikilok, Lewoleba pada Selasa (13/01/2026).
“Kita mengalami sedikit kendala di bahan baku. Itu hal yang paling pertama. Yang pertama itu di pemasok buah-buahan kemudian kekurangan di pemasok daging ayam,” kata Yohanes.
Ia mengungkapkan satu Dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani kurang lebih 3.500 anak, membutuhkan sekitar 260-270 Kg daging ayam dan buah-buahan dalam sehari.
Jika diakumulasikan, maka total kebutuhan daging ayam dan buah-buahan segar dalam sehari bisa mencapai 780 – 810 Kg.
Dalam seminggu, Yohanes menjelaskan menu makan dengan lauk daging ayam bisa disediakan selama dua sampai tiga hari. Artinya rata-rata kebutuhan daging ayam dan buah-buahan dalam seminggu bisa mencapai 2.340 – 2.430 Kg.
Kondisi ini menurut Yohanes harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Apalagi dalam waktu dekat beberapa Dapur MBG tambahan kategori wilayah terpencil mulai berpoperasi. Tentu kebutuhan akan daging ayam semakin meningkat.
“Jadi untuk mendukung program bapa presiden Prabowo Subianto kiranya kita semua bisa bergandengan tangan,”’kata Yohanes.
Untuk sayur-sayuran Yohanes mengungkapkan tiga dapur ini masih bisa mengandalkan pasokan dalam daerah. Sayur-sayur tersebut di antaranya labu jepang, kelor dan kol.
“Hanya kalau dengan kentang dan wortel kita masih butuh dari luar,” ungkapnya.
Di sisi lain, beberapa Dapur MBG untuk wilayah terpencil menurut rencana akan dilaunching pada bulan Februari mendatang.
“Kita juga sedang proses persiapan pembangunan untuk SPPG-SPPG terpencil yang ada di kecamatan. Kemarin kami baru melakukan vikon dengan tim percepatan BGN dan itu untuk Lembata ada SPPG terpencil yang pembangunannya sudah 95 persen dan akan segera kita launching,” ucap Yohanes.
Selain pemerintah daerah yang harus mempercepat program pemberdayaan nelayan, petani dan peternak untuk mendukung rantai suplai MBG, Yohanes juga berharap masyarakat bisa merespon secara mandiri kondisi kekurangan bahan baku ini. (BN/001)















