LEMBATA – Pemerintah Kabupaten Lembata di bawah kepemimpinan Bupati Petrus Kanisius Tuaq mulai mengubah konsep destinasi wisata Bukit Cinta yang selama ini telah dibangun mendiang Bupati Eliyaser Yentji Sunur.
Selama pergantian pemimpin sejak meninggalnya Bupati Sunur pada 2021 silam, kawasan wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Lembata ini mulai tidak terurus.
Pelataran bukit cinta dengan penorama sunset sepanjang selat Solor tampak kumuh. Lokasi ini tidak lagi masuk dalam prioritas pembangunan pemerintah Lembata pasca era Yentji Sunur.
Sejak awal kepemimpinannya, Bupati Kanis sudah mewacanakan akan mengubah beberapa bangunan UMKM yang mubazir di kawasan wisata Bukit Cinta menjadi rumah burung walet.
Wacana yang ia lontarkan ini cukup mengejutkan banyak kalangan. Bagaimana mungkin sebuah kawasan wisata diubah menjadi peternakan burung yang konon bisa menghasilkan uang ratusan juta rupiah?
Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan program Nelayan Tani Ternak (NTT) yang menjadi leading sektor pembangunan di masa kepemimpinan Kanis – Nasir.
Rupanya ini bukan sekedar wacana. Pada Jumat (19/01/2026), Bupati Kanis meresmikan rumah walet di kawasan wisata Bukit Cinta Lembata. Peresmian ini dihadiri sejumpah pimpinan OPD lingkup Pemda Lembata dan praktisi ekonomi.
Sebuah bangunan sebagai rumah burung walet yang berdiri megah tepat di samping bangunan UMKM lainnya resmi beroperasi.
Bangunan ini memiliki banyak lubang di dinding sebagai akses keluar masuk burung walet. Dari dalam bangunan ini terdengar suara burung buatan yang melengking untuk menarik burung walet.
Pelaku pariwisata Lembata Vincent Halimaking menilai pembangunan rumah walet di Bukit Cinta menunjukan pemerintah sedang gagal mengembangkan kawasan pariwisata di sebelah barat Kota Lewoleba ini.
Menurutnya, rumah walet sama sekali tidak memberi daya tarik untuk kawasan wisata Bukit Cinta yang selama ini justru menawarkan ketenangan suasana di antara sayup-sayup deburan ombak.
“Apa yang menarik dari burung walet ini. Justru suara buatan untuk menarik burung masuk ke dalam bangunan itu yang membuat orang tidak nyaman. Apalagi sarang burung walet ini kan hampir di semua desa orang budidaya. Jadi ini tidak menarik tapi justru mengganggu,” kata Vincent.
Ia bahkan menilai bahwa langkah pemerintah membangun rumah walet di kawasan ini merupakan sebuah rencana alih fungsi kawasan, bukan proses integrasi wisata edukasi.
Menurutnya, kehadiran rumah burung walet ini membuat pemerintah justru enggan mempromosikan kawasan ini, karena sudah ada tambahan penghasilan dari rumah walet.
“Itu tidak alami. Itu alih fungsi. Bagaimana mungkin sebuah kawasan wisata diwarnai dengan hilir mudik orang urus burung walet. Berapa lama orang memasang bunyi-bunyian itu untuk mendatangkan burung walet?” ujarnya.
Vincent justru mendorong pemerintah untuk membenahi transportasi, mememperbaiki infrastruktur, mengubah bangunan UMKM yang mubazir menjadi homestay, menguatkan promosi dan even di kawasan ini untuk menarik wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Saya merasa bahwa kita sedang membuang anggaran yang banyak lalu kita merubahnya menjadi sarang burung walet, berarti ada biaya yang dikeluarkan untuk mendesain ulang bangunan itu untuk bisa menyesuaikan dengan kebutuhan burung walet,” ucapnya.
“Cobalah kira mendesain ulang tempat itu menjadi homestay, tingkatkan promosinya, perbaiki sanitasi, fasilitas air bersih dan penerangan, supaya orang itu nyaman ke sana menikmati sunset bahkan sampai malam,” lanjutnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kabupaten Lembata, Kris Molan dalam laporannya saat acara peresmian mengatakan, pembangunan rumah walet merupakan salah satu upaya strategis dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat.
Dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan, pembangunan rumah walet tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan agrowisata yang memberi nilai tambah bagi kawasan tersebut.
“Usaha sarang burung walet memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta prospek yang menjanjikan apabila dikelola secara terencana, terpadu dan berkelanjutan. Pengelolaan rumah walet yang baik juga dapat disinergikan dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis alam dan edukasi,” kata Kris.
Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa pengembangan rumah walet yang terintegrasi dengan konsep pariwisata diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, di anranya, penyediaan jasa pemandu wisata, produk olahan dan cenderamata, serta peningkatan usaha mikro dan kreatif lokal.
Ia bahkan memproyeksikan penjualan berdasarkan pengalaman pelaku usaha burung walet bisa mencapai Rp 96 juta per tahun, dengan asumsi populasi walet dalam jangka waktu enam bulan sebanyak kurang lebih 500 ekor.
Waktu mulai panen dapat dioptimalkan tahun kedua dengan asumsi jika rata rata panen bulanan sebanyak 1 kg, dengan harga jual Rp 8 juta/kg, maka total penjualan per tahun sebesar Rp 96 juta.
“Diharapkan hasil pembangunan ini dapat dimanfaatkan secara optimal serta memberikan manfaat ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” ucapnya. (BN/001)















