• About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise
Thursday, January 15, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Bentara
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Bentara
No Result
View All Result
Home Feature

Berkah Air Bersih di Desa Leuwayan

by BentaraNet
in Feature
0
Yasinta Sasi Apelabi, warga Desa Leuwayan, menyiram tanaman di pekarangan rumah / Foto : Doc. Plan Indonesia untuk BentaraNet

Yasinta Sasi Apelabi, warga Desa Leuwayan, menyiram tanaman di pekarangan rumah / Foto : Doc. Plan Indonesia untuk BentaraNet

0
SHARES
95
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Halaman rumah milik Yasinta Sasi Apelabi (40 tahun) didominasi oleh bebatuan besar yang tersusun tidak beraturan sejak dahulu kala. Tidak ada yang tahu dari mana asal bebatuan ini. Meski demikian, rumah yang berada di lereng bukit di Desa Leuwayan, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur itu dipenuhi tanaman pekarangan seperti sereh dan beberapa jenis tanaman.

Selain karena hobi menanam, persediaan air yang cukup juga mendorong perempuan yang akrab disapa Sin ini menyulap halaman rumah yang sebelumnya gersang, menjadi indah dipandang mata. Ditemui pada Selasa, 4 April 2023, Sin saat itu sedang menyiram bunga-bunga yang kebetulan sedang bermekaran.

Satu buah drum plastik ukuran 200 liter air diletakan di belakang rumah untuk menampung air leding yang dia gunakan juga untuk minum, masak dan mencuci pakaian.

Kondisi ini jauh berbeda dengan dua tahun lalu. Jangankan untuk menyiram tanaman. Dulu, untuk mandi, mencuci dan masak pun tidak cukup. Di dalam rumahnya yang sederhana, Sin mengisahkan bagaimana sulitnya mendapat air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Dulu, Sin harus berjuang mengambil air dari sumur di pinggir pantai Desa Leuwayan, yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Rumah itu berada persis di lereng bukit kecil Desa Leuwayan. Dengan peluh bercucuran di wajah, Sin harus mendaki lereng bukit sambil menjunjung air menuju rumah yang berada di Dusun Dahuq Ramuq.

“Karena kan sumurnya jauh. Sementara, air ledingnya turun tidak pasti. Kadang, sampai satu minggu baru satu kali turun. Jadi dulu itu kami pikul. Turun timba air di perigi (sumur), sampai di pertengahan, kami taro (simpan) drum di jalan, isi di situ sampai penuh. Malamnya baru kami antar lagi ke rumah,” kata Sin.

Dua buah sumur yang berada di pinggir pantai itu selalu menjadi rebutan warga desa untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian. Jika terlambat, bisa jadi dia tidak memperoleh air. “Sumurnya kadang juga bisa-bisa mengering karena airnya berkurang,” ungkapnya.

RelatedPosts

Dapur MBG di Lembata Kesulitan Bahan Baku, Terutama Daging Ayam

January 15, 2026

Dapur MBG 03 Lembata Diresmikan, Jadi SPPG Contoh Capai Target Indonesia Emas 2045

January 13, 2026

Kondisi ini berubah setelah Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) mulai membangun bak reservoar dan jaringan pipa menuju rumah warga pada tahun 2022 lalu. Kini, Sin dapat menikmati air bersih yang keluar rutin dua hari sekali, langsung ke rumahnya.

“Saat pemasangan pipa dari Plan itu, kami sudah tidak turun ambil air dari perigi lagi, tidak cuci di bawah. Kami mandi di rumah, bisa pakai untuk siram-siram tanaman, seperti itu,” kata Sin dengan raut wajah ceria.

Jaringan air bersih yang dibangun Plan Indonesia juga dimanfaatkan warga Desa Leuwayan untuk keperluan memasak, mandi dan mencuci pakaian / Foto : Doc. Plan Indonesia untuk BentaraNet

Hal yang sama juga dirasakan Kristina Tuto (32), warga dusun Ramuq Auq. Halaman rumah Kristina kini ditumbuhi pohon anggur yang sudah mulai berbuah. Dia mulai menanam anggur setahun yang lalu setelah jaringan pipa air bersih yang dibangun Plan Indonesia sampai ke rumahnya.

Pohon anggur yang dia peroleh dari Desa Roma ini baru ia tanam setahun yang lalu. Dengan ketekunan dan keuletan, Kristina sudah mulai menikmati buah dari kerja kerasnya. Buah-buah anggur tampak bergelantungan di ranting yang menjalar tepat di bawah atap rumah miliknya.

Di halaman belakang rumah, ia membudidayakan anakan pohon anggur. Anakan anggur ini mulai dipesan oleh beberapa kenalan dari desa tetangga. Hobi menanamnya ini harus dia tahan selama bertahun-tahun karena tidak ada ketersediaan air yang cukup di rumahnya.
“Kalau merawat tidak susah, tapi dia butuh air juga. Ini baru satu kali panen tapi kami makan saja, bagi ke anak-anak. Anggur kan satu tahun berbuah dua kali,” ungkapnya.

Selain anggur dia juga menanam beberapa tanaman pekarangan lainnya di dalam koker seperti pria, terung, sere, dan lain-lain. Semua pekerjaan ini bisa ia lakukan setelah Plan Indonesia membangun jaringan air ke rumahnya yang letaknya persis di sebelah Masjid Desa Leuwayan.
“Sebelumnya tidak bisa tanam karena memang air juga tidak ada. Sekarang sudah bisa tanam, buat masak juga untuk mandi,” kata Kristina.

Apa yang dirasakan Yasinta dan Kristina ini merepresentasikan pengalaman warga di Desa Leuwayan yang telah menikmati air bersih. Kepala Desa Leuwayan, Emanuel Ledo, mengatakan, jaringan pipa sebelumnya tidak mampu untuk menyuplai air bersih dari bak yang telah dibangun sebelumnya.

Bak air bersih yang dibangun Plan Indonesia di Desa Leuwayan / Foto : Doc. Plan Indonesia untuk BentaraNet

Jaringan air bersih di Desa Leuwayan memang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda dengan debit air 1,8 liter per detik yang dialirkan ke Gereja Paroki Hoelea. Dalam perjalanan, Pemerintah Indonesia melalui program PNPM membangun tiga bak resevoar dengan total kapasitas tampung 72.000 liter.
Namun distribusi air tidak merata. Warga di wilayah timur di Dusun Empat dan Tiga tidak bisa menikmati air bersih karena kesalahan teknis pembagian, keterbatasan pipa outlet untuk distribusi air ke rumah warga.

“Distribusinya tidak merata karena di situ terdapat satu bak yang kapasitasnya 35.000 liter, pipa outletnya 1 dim dengan dua outlet. Makanya itu bermasalah, 1 dim, disambung lagi ke setengah dim, kemudian disambung lagi setengah dim, jadi orang-orang di rumah paling ujung tidak bisa dapat air,” kata Emanuel.

Pada tahun 2022, Plan Indonesa membangun jaringan pipa dan beberapa bak penampung untuk distribusi air bersih ke rumah-rumah warga. Identifikasi masalah bersama pemerintah desa menjadi dasar pertimbangan untuk membangun kambali jaringan pipa ke rumah warga warga.

“Tiga hari setelah dilantik semua pembangunan terhenti karena COVID-19. Berkat Plan Indonesia, intervensinya bisa membangun jaringan air bersih ini,” ujarnya.

Manager Plan Indonesia Program Implementation Area (PIA) Lembata, Erlina Dangu, mengatakan, pembangunan jaringan pipa air bersih di Desa Leuwayan ini merupakan implementasi dari program Jelajah Timur tahun 2021 dengan mengusung spirit Water for Equality.
Donasi yang terhimpun dari program ini digunakan untuk membangun jaringan air di Desa Leuwayan, Kabupaten Lembata, yang saat ini dapat dinikmati oleh warga setempat.

Erlina mengatakan, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap krisis air yang terjadi di sebuah wilayah.

Dia mencontohkan waktu ibu-ibu untuk mengurus rumah tangga dan bertani tergerus, hanya karena mereka harus mengambil air dari sumur yang berada di pinggir pantai. Begitu pun dengan anak-anak usia sekolah. Mereka harus berjalan jauh untuk mandi di sumur dan menenteng air di jerigen untuk menyiram bunga di halaman sekolah.

“Khusus anak-anak perempuan pada saat menstruasi mereka membutuhkan air yang banyak. Harapan kita dengan ketersediaan air bersih yang cukup membuat anak- anak kita bisa punya waktu yang cukup untuk belajar, tetap dalam keadaan bersih dan sehat pada periode menstruasi mereka,” kata Erlina.

“Dengan sumber air yang makin dekat, mama-mama kita tidak perlu lagi ambil air jauh-jauh. Mereka punya waktu lebih banyak di rumah sehingga bisa bermain bersama anak dan mengasuh anak,” lanjutnya.

Kini, warga Desa Leuwayan dapat menikmati air bersih untuk keperluan minum, masak, mencuci bahkan untuk menyiram tanaman pekarangan. Mereka merasakan berkah air sebagai sumber kehidupan, dari perjuangan para pelari dalam program Jelajah Timur tahun 2021 Plan Indonesia. (Andri Ata Goran)

Related Posts

Kisah Petani Lembata: Hadapi Perubahan Iklim dengan Sayur Organik

Kisah Petani Lembata: Hadapi Perubahan Iklim dengan Sayur Organik

April 26, 2025

LEMBATA – Tangan Stephani Abon (40) tidak berhenti memindahkan timbunan buah tomat satu per satu ke atas dacin. Ia menghitung...

Kades Leuwayan, Meneruskan Perjuangan Pelari Jelajah Timur

February 7, 2025

Dengan langkah tegap, Emanuel Ledo (52) berjalan menuju puncak Leuwayan, sebuah desa yang berada di pesisir utara Kecamatan Omesuri, Kabupaten...

Josephine Vivick Tjangkung ; Menyusuri Jejak Sang Kakek di Tanah Leluhur

April 25, 2023

Lima puluh sembilan tahun yang lalu, sekelompok orangtua inisiatif mendirikan sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Lamalera, Kabupaten Lembata, kampung...

Trash Hero Lembata Tebar Tong Sampah di Tempat Rekreasi

April 22, 2023

Lembata - Wajah Taman Kota Swaolsa Titen kini berubah menjadi terang di malam hari, dan ramai dikunjungi, setelah Camat Nubatukan,...

Rayakan Natal Tahun Baru Bersama, Umat Lingkungan St. Kornelius Komak Tanam Pohon

Rayakan Natal Tahun Baru Bersama, Umat Lingkungan St. Kornelius Komak Tanam Pohon

March 14, 2023

Lewoleba - Umat Katolik Lingkungan Santo Kornelius Komak di Kota Lewoleba Kabupaten Lembata, merayakan Natal dan Tahun Baru 2023 dengan...

Next Post

Hari Lingkungan Hidup, Desa Bour Deklarasi Bebas Sampah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Dapur MBG 03 Lembata Diresmikan, Jadi SPPG Contoh Capai Target Indonesia Emas 2045

2 days ago

Ini Proyeksi Pendapatan Rumah Walet di Kawasan Wisata Bukit Cinta

4 days ago

Bangun Rumah Walet di Bukit Cinta, Bukti Pemda Lembata Gagal Kembangkan Pariwisata

5 days ago

Lima kali bukan kebetulan: PN Lembata kembali percayakan Posbakum ke LBH SIKAP

6 days ago
Kadis PMD Lembata Sebut Visi-Misi Kepala Desa Tidak Terganggu Akibat Dana Desa Terkoreksi. Ini Penjelasannya!

Kadis PMD Lembata Sebut Visi-Misi Kepala Desa Tidak Terganggu Akibat Dana Desa Terkoreksi. Ini Penjelasannya!

6 days ago

Dana Desa 2026 di Lembata Terkoreksi, Ada Desa yang Hanya Dapat Rp 219 Juta

7 days ago

Prediksi Puncak Arus Balik di Pelabuhan Laut Lewoleba Pada 03-04 Januari

2 weeks ago

Popular News

  • Bangun Rumah Walet di Bukit Cinta, Bukti Pemda Lembata Gagal Kembangkan Pariwisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kadis PMD Lembata Sebut Visi-Misi Kepala Desa Tidak Terganggu Akibat Dana Desa Terkoreksi. Ini Penjelasannya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dapur MBG 03 Lembata Diresmikan, Jadi SPPG Contoh Capai Target Indonesia Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Proyeksi Pendapatan Rumah Walet di Kawasan Wisata Bukit Cinta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dana Desa 2026 di Lembata Terkoreksi, Ada Desa yang Hanya Dapat Rp 219 Juta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima kali bukan kebetulan: PN Lembata kembali percayakan Posbakum ke LBH SIKAP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Connect with us

Kirim E-mail :

Untuk kritik, saran dan pertanyaan lainnya, silahkan kirim pesan anda untuk BentaraNet di bentara.redaksi01@gmail.com

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

About Us

Kami menyajikan berita akurat, mendalam dan edukatif untuk anda.

  • About
  • Redaksi & Contact
  • Advertise

© 2023 - Bentara.net

No Result
View All Result
  • Home
  • Polkam
  • Ekbis
  • Hukrim
  • BudPar
  • Humaniora
  • Kesehatan
  • Pendidikan

© 2023 - Bentara.net

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In